Makanan Bermanfaat Merawat Otak

Otak memerlukan 50% dari seluruh kebutuhan energi atau tenaga dalam tubuh. Kurangnya nutrisi otak,seperti multivitamin, asam amino dan mineral sangat mempengaruhi daya maksimal otak.

Otak merupakan organ vital bagi manusia. Berbagai potensi dan kemampuan dikendalikan dari otak. Berbagai upaya pun dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi otak, terutama pada anak-anak. Tiga prinsip untuk mengoptimalkan fungsi otak adalah nutrisi, stimulasi dan emosi .

Berikut ini adalah beberapa nutrisi yang sangat baik dikonsumsi untuk merawat dan mengoptimalkan fungsi otak

Kuning Telur

Makanan untuk perkembangan otak dan memori melimpah di kuning telur. Inilah mengapa anak di bawah usia tujuh tahun dianjurkan mengonsumsinya, karena area yang mempengaruhi daya ingat masih berada pada tahap awal perkembangan.

Kacang

Kacang banyak mengandung vitamin E yang bisa membuat otak sehat,sehingga membantu mencegah kehilangan memori akibat penuaan

Omega-3

Asam lemak omega-3 akan diolah menjadi DHA. Mengkonsumsi bahan makanan yang kaya akan asam lemak omega-3 maupun DHA akan melancarkan pengiriman sinyal di otak. Rendahnya tingkat DHA dapat menyebabkan kehilangan memori, kurang konsentrasi atau gangguan suasana hati. Kenari, ikan salmon adalah contoh beberapa bahan makanan yang kaya omega-3.

Kacang Mete

Kacang mete kaya magnesium yang memungkinkan produksi oksigen ke sel otak meningkat.

Biji Kopi

Biji kopi kaya akan vitamin, mineral, antioksidan dan asam amino. Beberapa penelitian menunjukkan, minum kopi secara teratur dapat mengurangi resiko demensia. Sebuah penelitian di Korea Selatan bahkan mengungkapkan bahwa kopi mengandung zat yang dapat memperlambat pertumbuhan tumor otak.

Berry

Stroberi mengandung fisetin disebut flavonoid yang dapat meningkatkan kerja memori di otak. Semua jenis berry, termasuk blueberry, blackberry, juga kaya antioksidan yang dapat membantu mengurangi stress di otak. Semakin gelap warna berry, semakin kaya kandungan antioksidan.

***

* aziza@h_el Banjary

Sudah Tepatkah Penggunaan Antibiotik Pada Buah Hati Kita?

Beragamnya penyakit infeksi pada anak telah membuat kebanyakan ibu khawatir dan panik ketika buah hatinya sakit. Bahkan tidak sedikit yang selalu membawa anaknya berobat ke dokter meski hanya penyakit ringan. Rasanya tidak puas jika dokter tidak memberi obat apapun dan hanya memberikan edukasi tentang penyakit dan perawatan anaknya yang sedang sakit. Tidak peduli apakah penyebabnya virus atau bakteri, kebanyakan ibu akan lebih tenang ketika dokter meresepkan antibiotik untuk anaknya. Padahal, penggunaan antibiotik yang tidak tepat bukan hanya menghamburkan uang, namun juga akan berdampak buruk pada kesehatan buah hati kita. Di zaman yang serba modern seperti sekarang ini, orangtua dituntut untuk pro aktif dan kritis dengan pengobatan yang diberikan dokter untuk buah hatinya. Salah satunya adalah ketika dokter meresepkan antibiotik. Sebagai orangtua, kita perlu memastikan, sudah tepatkah penggunaan antibiotik pada buah hati kita?

Mengenal Antibiotik

Antibiotik merupakan substansi yang dihasilkan oleh mikroorganisme, yang dalam konsentrasi rendah mampu menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain. Antibiotik adalah obat yang digunakan dalam penanganan pasien yang terbukti atau diduga mengalami infeksi bakteri dan terkadang juga digunakan untuk mencegah infeksi bakteri pada keadaan khusus. Penggunaan antibiotik tidak boleh sembarangan dan hanya bisa didapatkan dengan resep dokter, karena penggunaan yang tidak sesuai indikasi justru akan menyebabkan resistensi (kebal) obat.

Seperti Apakah Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat?

Pemakaian antibiotik yang tidak berdasarkan ketentuan (petunjuk dokter) menyebabkan tidak efektifnya obat tersebut sehingga kemampuan membunuh kuman berkurang atau bahkan menimbulkan resistensi. Ketidaktepatan penggunaan antibiotik terjadi dalam situasi klinis yang sangat bervariasi, meliputi :

* Pemberian antibiotik pada keadaan tanpa adanya infeksi bakteri.

* Pemilihan antibiotik yang salah atau tidak sesuai diagnosis.

* Dosis yang tidak tepat atau berlebihan.

* Lama penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

* Penggunaan obat antibiotik suntik yang berlebihan pada penyakit yang dapat disembuhkan dengan obat yang ditelan (oral).

* Pengobatan sendiri oleh pasien dengan cara mengonsumsi antibiotik yang seharusnya diresepkan oleh dokter.

* Penggunaan antibiotik berlebih untuk profilaksis (pencegahan) pada pembedahan bersih, khususnya pemberian antibiotik yang berlangsung lebih lama dari waktu yang direkomendasikan (kurang dari 24 jam pasca operasi).

Keadaan ini antara lain disebabkan oleh berbagai faktor seperti pengetahuan dokter yang kurang, pengalaman masa lalu atau contoh dari kolega senior, harapan dan permintaan pasien, promosi industri farmasi, dan mudahnya pasien membeli antibiotik tanpa resep dokter.

Bahaya Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat

Penggunaan antibiotik pada anak memerlukan perhatian khusus. Mengapa demikian? Bayi dan anak berisiko paling sering mendapatkan antibiotik, karena daya tahan tubuhnya yang lebih rentan sehingga lebih sering sakit. Padahal, seperti halnya obat pada umumnya, antibiotik memiliki efek samping yang bisa muncul jika penggunaannya tidak tepat.

Efek samping yang sering terjadi pada penggunaan antibiotik adalah gangguan beberapa organ tubuh. Terlebih lagi bila diberikan kepada bayi dan anak-anak, karena sistem tubuh dan fungsi organ pada bayi dan anak-anak masih belum tumbuh sempurna. Gangguan organ tubuh yang bisa terjadi adalah gangguan saluran cerna, gangguan ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan sumsum tulang, gangguan darah dan sebagainya.

Akibat lainnya adalah reaksi alergi karena obat. Gangguan tersebut mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir atau kelopak mata, sesak, hingga dapat mengancam jiwa atau reaksi anafilaksis.

Pemakaian antibiotik berlebihan atau irasional juga dapat membunuh kuman yang baik dan berguna yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh jamur atau disebut “superinfection”. Pemberian antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan bakteri-bakteri yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resisten atau disebut “superbugs”.

Penggunaan antibiotik yang irasional menyebabkan bakteri yang awalnya dapat diobati dengan mudah menggunakan jenis antibiotik ringan akan bermutasi dan menjadi kebal, sehingga memerlukan jenis antibiotik yang lebih kuat. Bila bakteri ini menyebar ke lingkungan sekitar, suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada lagi jenis antibiotik yang dapat membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini.

Makin Dini, Makin Berisiko

Sebagian besar kasus penyakit infeksi pada anak disebabkan oleh virus. Penyakit virus adalah penyakit yang termasuk “self limiting disease” atau penyakit yang sembuh sendiri dalam waktu 5 sampai 7 hari (dengan ijin Allah ). Sebagian besar penyakit infeksi diare, batuk, pilek dan panas disebabkan oleh virus. Secara umum, setiap anak akan mengalami 2 hingga 9 kali penyakit saluran napas karena virus.

Sebuah penelitian melaporkan suatu hasil penelitian “population based”, dimana dilakukan penelitian longitudinal yang terhadap 13.116 anak di Kanada yang lahir pada tahun 1995 dan mendapat pengobatan dengan antibiotik dalam tahun pertama kehidupan untuk mempelajari faktor-faktor resiko terjadinya asma pada anak. Anak yang didiagnosis menderita asma dalam tahun pertama kehidupan dikeluarkan dari penelitian. Ternyata 65 % anak mendapat antibiotik dan terbanyak adalah antibiotik berspektrum luas.

Anak yang mendapat antibiotik untuk penyakit infeksi bukan saluran nafas ternyata mempunyai resiko menderita asma dua kali lebih besar pada usia 7 tahun dibandingkan yang tidak mendapat antibiotik.

Penelitian ini mengkonfirmasikan hasil penelitian sebelumnya bahwa penggunaan antibiotik yang terlalu dini pada anak (usia kurang dari 1 tahun) terutama antibiotik yang berspektrum luas, meningkatkan resiko terjadinya asma pada anak. Sehingga dianjurkan untuk tidak memberi antibiotik terutama yang bersektrum luas kepada anak usia kurang dari 1 tahun apabila tidak sangat diperlukan.

Kapan Anak Memerlukan Antibiotik?

Indikasi yang tepat dan benar dalam penggunaan antibiotik pada anak adalah bila penyebab infeksi tersebut adalah bakteri. Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention), indikasi pemberian antibiotik adalah :

* Batuk dan pilek yang terjadi sepanjang hari (bukan hanya pada malam hari dan pagi hari) yang berkelanjutan selama lebih dari 10-14 hari dan disertai dengan cairan hidung mukopurulen (kuning atau hijau). Bila batuk dan pilek yang berkelanjutan terjadi hanya pada malam hari dan pagi hari (bukan sepanjang hari) biasanya berkaitan dengan alergi atau bukan lagi dalam fase infeksi, sehingga tidak perlu antibiotik.

* Bila terdapat gejala infeksi sinusitis akut yang berat seperti panas > 39° C dengan cairan hidung purulen (kental), nyeri, bengkak di sekitar mata dan wajah.

* Radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus. Penyakit ini pada umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih. Pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang mengalami radang tenggorokan karena kuman ini. Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur (pembiakan bakteri) yang membutuhkan beberapa hari untuk observasi.

* Infeksi saluran kemih. Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur urin. Setelah beberapa hari akan diketahui bila ada infeksi bakteri berikut jenis dan sensitivitas terhadap antibiotik.

* Penyakit tifus. Selain dari anamnesis (wawancara) dan pemeriksaan fisik, untuk mengetahui penyakit tifus perlu dilakukan pemeriksaan darah Widal dan kultur darah gaal.

Gunakan Antibiotik Secara Tepat

Berikut ini beberapa tips penggunaan antibiotik yang benar, sebagai pedoman para orangtua dalam memberikan antibiotik pada anaknya :

* Memberikan antibiotik pada anak hanya dengan resep dokter, yaitu dengan dosis dan jangka waktu sesuai resep.

* Menanyakan pada dokter, obat mana yang mengandung antibiotik.

* Tidak menggunakan atau membeli antibiotik berdasarkan resep sebelumnya. Karena salah menggunakan antibiotik menyebabkan obat menjadi tidak efektif lagi dan bahkan bisa menimbulkan resisten (kebal) obat.

* Pilek, batuk, dan diare pada anak umumnya tidak memerlukan antibiotik. Usahakan agar anak banyak minum, cukup makan makanan bergizi, dan istirahat. Jika demam lebih dari 3 hari periksakan anak ke dokter.

***

*aziz@h_el Banjary

MAKANAN PENGECIL PERUT

Merasa tidak percaya diri dengan bentuk perut Anda yang membuncit? Jangan khawatir. Anda tidak perlu bersusah payah melakukan diet. Kenapa? Karena berdasarkan sejumlah penelitian, penyebab buncitnya perut adalah karena lambannya proses pencernaan, bukan karena lemak.Anda bisa mengalahkan ketakutan Anda dengan hanya menerapkan sejumlah menu sederhana dan sedikit merubah gaya hidup. Bukan tidak mungkin, perut Anda akan menjadi lebih rata, lebih seksi, dan lebih indah dalam waktu cepat.
Apa saja yang boleh dimakan :
1. Makanan Berserat
Mengapa harus Anda makan? Sebab, konstipasi dapat membuat bengkak perut Anda. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan memakan sereal setiap pagi. Berdasarkan penelitian, mengkonsumsi dua jenis serat sekaligus adalah cara paling efektif. Para ilmuwan menemukan bahwa serat yang tidak dapat larut (dari kulit padi) dan serat yang dapat larut (dari psyllium) dalam sereal dapat menarik air menuju usus dan mempercepat proses pencernaan. Hasilnya? Anda terlihat lebih langsing dan merasa lebih ringan.
Anjuran Menu: 1/3 mangkuk sereal kaya serat

2. Makanan Kaya Potassium
Makanan kaya potassium seperti pisang dan kentang dapat menyingkirkan massa air berlebih dalam tubuh. Kelebihan air biasanya disebabkan kandungan dua mineral utama pengontrol air dalam tubuh, potassium dan sodium tidak seimbang. Ketika tingkat sodium kelewat batas, jaringan tubuh akan menahan air keluar menuju pencernaan. Untuk memperbaikinya, Anda minimal harus menkonsumsi 4.700 miligram asupan potassium tiap hari.
Hati-hati! Makanan adalah sumber potassium yang aman, namun tidak begitu dengan suplemen potassium. Suplemen tersebut akan menimbun potassium dalam tubuh dan berpotensi mengarah pada kelainan ritme jantung atau bahkan serangan jantung.
Anjuran Menu: Satu porsi medium kentang panggang dengan kulitnya, satu buah pisang ukuran sedang, satu buah pepaya ukuran sedang, satu porsi sedang olahan kedelai, 1/2 mangkuk saus tomat, 1/2 mangkuk sayur bayam, dan satu buah jeruk ukuran sedang.
3. Yogurt Mengandung Probiotik
Berdasarkan hasil penelitian ,jumlah bakteri yang tidak seimbang dalam tubuh dapat memperlambat proses pencernaan dan membengkakkan perut anda. Namun, bakteri hidup dalam yogurt yang disebut probiotik dapat membantu. Walaupun para ilmuwan tidak begitu mengerti mekanismenya, probiotik dapat mempercepat pergerakan makanan dalam usus.
Anjuran Menu: empat ons yogurt rendah atau bebas lemak yang mengandung probiotik.

4. Lebih Banyak Konsumsi Air
Meminum cukup air dapat membantu usaha mengecilkan perut anda. Apabila terdapat cukup cairan dalam tubuh, sereal dengan dua jenis serat yang pagi tadi anda makan akan lebih mudah menarik air menuju usus bagian bawah dan mengatasi konstipasi.

Berapa banyak cairan yang anda butuhkan? Mengatasi kebuncitan berarti Anda harus cukup mengalami hidrasi. Oleh karena itu, minumlah delapan gelas tiap hari ditambah sejumlah makanan yang mengandung air seperti sayur dan buah. Selain itu, anda dapat memenuhi kuota per hari dengan susu, jus, kopi, dan teh. Jangan minum minuman beralkohol, karena akan menyebabkan sistem tubuh mengalami dehidrasi.
Anjuran Menu: Meminum banyak air adalah ide yang brilian. Mengapa? Karena air tidak mengandung kalori, garam, gula, atau zat adiktif. Lagipula itu gratis!

Apa saja yang harus dihindari :
1. Sodium
Sodium dapat menahan air dan menyebabkan perut anda buncit. Kebanyakan dari kita mengkonsumsi sodium dua kali lebih tinggi dari yang seharusnya, yaitu 3400 miligram dari anjuran 1500 miligram per hari.
Strategi Terbaik: Hentikan memberi garam pada makanan Anda, dan periksa berapa kadar sodium dalam makanan kemasan.

2. Permen, Soda, dan Permen Karet
Anda pernah merasa kembung? Perut anda kian membesar padahal anda merasa tidak begitu banyak mengkonsumsi lemak? Yang ada dalam perut Anda bukanlah lemak melainkan udara. Ya, mungkin Anda tidak menyadari tapi ketika Anda makan atau minum terlalu cepat, mengisap minuman melalui sedotan, mengemut permen, dan mengunyah permen karet, Anda sedang “memakan” udara ke dalam tubuh.
Strategi Terbaik: Kunyahlah makanan perlahan-lahan sambil menutup mulut. Ganti minuman berkarbonasi seperti soda dengan yang lebih aman, seperti jus atau air putih. Kurangilah permen karet dan teman-temannya.

3. Pemanis Buatan
Tubuh kita tidak dapat mencerna dengan sempurna pemanis rendah kalori. Pemanis buatan banyak ditemukan dalam minuman kemasan berbagai rasa dan makanan bebas gula. Bakteri dalam usus besar akan menfermentasi zat ini sehingga menimbulkan gas atau bahkan diare.
Strategi Terbaik: Periksa beberapa label makanan berikut dan hindarilah: sorbitol, mannitol, xylitol, dan lacitol.

4. Makanan Mentah
Buah-buahan segar dan sayuran itu sehat, namun tetap adalah makanan bervolume tinggi yang memenuhi isi perut Anda.
Strategi Terbaik: Atur dan sebar konsumsi produk segar Anda tiap hari. Jangan terlalu banyak memakannya karena merasa itu sehat. Makananlah secara seimbang. Anda dapat pula mengecilkan volume buah dan sayur dengan cara memasaknya.

 

by Azizah_Mftrhmn El-Banjary

Inilah Kesalahan Terpopuler Menghadapi Balita

MENGASUH dan membesarkan anak balita biasanya menjadi tantangan tersendiri bagi para orangtua. Pada usia kritis ini, anak-anak belajar begitu cepat dan berubah setiap hari.

Lantas, bagaimana cara membantu mereka untuk makan, tidur, dan bermain secara lebih baik? Berikut ini adalah sejumlah kesalahan yang sebaiknya dihindari setiap orangtua dalam menghadapi balita,

Tidak konsisten
Balita menyukai rutinitas. Mereka senang ketika mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang diharapkan dari mereka. Cobalah mengatur rutinias makan dan tidur yang teratur. Selain itu, terapkan perlakuan konsisten dalam menanggapi perilaku buruk. Misalnya, ketika balita melempar makanannya ke lantai atau menolak tidur siang.

Menyepelekan waktu berduaan
Waktu berkumpul bersama keluarga memang menyenangkan. Tapi, anak-anak benar-benar senang jika bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan salah satu orangtuanya. Pastikan setiap anak mendapatkan waktu khusus mereka sesering mungkin. Aktivitas apa pun bisa dilakukan. Yang penting, Anda dan akan bermain bersama.

Terlalu ikut campur
Adalah suatu godaan bagi setiap orangtua untuk turun tangan dan membantu balitanya menyelesaikan potongan puzzle atau mengikat sepatu. Tapi, tahan diri Anda supaya tidak terlalu banyak membantu. Balita perlu belajar mandiri dan bagaimana berurusan dengan rasa frustrasi. Jadi, biarkan anak berjuang melakukan sesuatu sendiri. Berikan mereka banyak dorongan untuk melakukannya.

Menyingkirkan boks tidur
Banyak orangtua memindahkan anak-anak mereka ke tempat tidur sungguhan terlalu dini. Hal ini dapat menyebabkan masalah tidur. Anak-anak mungkin mengalami kesulitan untuk tetap berada di tempat tidur, sehingga berakhir dengan menyelusup ke atas tempat tidur orangtuanya. Pindahkan anak ke tempat tidur biasa jika dia sudah dapat keluar dari boks tidurnya sendiri, atau ketika dia meminta hal itu. Biasanya, ketika anak sudah berusia 2 atau 3 tahun.

Melatih ke toilet terlalu dini
Orangtua yang tak sabar sering menekan anak-anaknya untuk menggunakan toilet sendiri sebelum mereka siap. Memang tak ada salahnya mempersiapkan mereka dengan menunjukkan toilet, menjelaskan cara kerjanya, membiarkan mereka melihat Anda menggunakan toilet, serta menanyakan apakah mereka ingin mencobanya. Tapi, jangan terlalu kecewa jika mereka menunjukkan ketidaktertarikan pada awalnya. Biarkan anak yang memberitahu Anda kapan dia ingin mulai menggunakan toilet.

Membebaskan menonton televisi
Menghabiskan waktu terlalu lama menonton televisi dapat memberikan anak masalah belajar di kemudian hari. Anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tidak diperbolehkan menonton televisi sama sekali. Singkirkan godaan untuk menggunakan televisi sebagai sarana mengasuh anak. Sebaliknya, temukan aktivitas lain yang lebih kreatif seperti menggambar, membuat rumah dari kotak kardus, atau bercakap-cakap.

Memarahi anak yang mengamuk
Sebagai orangtua, Anda mungkin pernah mengalami dilema termasuk malu ketika berusaha mengendalikan anak yang mengamuk di depan umum. Setiap anak umumnya pernah mengamuk. Ingatkan diri bahwa anak Anda lebih penting daripada penilaian siapa pun yang menonton. Fokuskan diri untuk menjaga anak tetap aman dan merasa dicintai sampai amukannya mereda.

Menyuap anak
Menyuap anak dengan makanan atau benda kesukaannya hanya akan mendorong mereka memeras Anda lebih banyak lagi, tiap kali Anda mengharapkan mereka melakukan sesuatu. Sebaliknya, dorong perilaku baik dengan memberikan mereka kata-kata pujian yang tulus dan menyenangkan.

*Azizah_Mfthrmn. el-Banjary

~ azizah_al on twitter
~ azizah_az on FB

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.