Pada Sabtu, 4 Juli 2009, datang seorang anak yang hendak bersunat (circumsisi). An. Zaini, 8 th.,dari Desa Sungai Langsat. Setelah dilakukan desinfeksi dan anestesi, lalu petugas kesehatan PKM Simpang Empat akan melakukan pembukaan Preputium (Kulit penutup Penis) dan pembersihan Smegma (kotoran di dalam penis). Beberapa saat setelah terlihat Gland Penis (kepala penis) seluruhnya, petugas kami menemukan adanya kelainan pada Orificium Urethrae Externa (lubang kencing) Zaini, yang bermuara tidak pada tempatnya di ujung Gland penis, tetapi berada dibawahnya (di sekitar preputium).
Akhirnya khitanan Zaini dibatalkan, petugas kami kemudian menginformasikan kepada keluarganya tentang kelainan pada Zaini dan menyarankan untuk dibawa ke Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura.

Hipospadia
Adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak yang sering ditemukan dan mudah untuk mendiagnosanya, hanya pengelolaanya harus dilakukan oleh mereka yang betul-betul ahli supaya mendapatkan hasil yang memuaskan.
Tujuan utama penanganan operasi hipospadia adalah merekonstruksi penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya kedepan dan dapat melakukan koitus dengan normal, prosedur operasi satu tahap pada usia yang dini dengan komplikasi yang minimal.
Penyempurnaan tehnik operasi dan perawatan paska operasi menjadi prioritas utama.
Pada hipospadia muara orifisium uretra eksterna (lubang tempat air seni keluar) berada diproksimal dari normalnya yaitu pada ujung distal glans penis, sepanjang ventral batang penis sampai perineum. Jadi lubang tempat keluar kencing letaknya bukan pada tempat yang semestinya dan terletak di sebelah bawah penis bahkan ada yang terletak di kantong kemaluan.
Seperti tampak dalam gambar. Tampak variasi dari letak orifisium uretra eksterna (dapat bervariasi mulai dari anterior, middle dan posterior)
Tindakan operasi harus dilakukan sebelum anak memasuki usia sekolah. Diharapkan anak tidak malu dengan keadaannya setelah tahu bahwa anak laki lain kalau BAK berdiri sedangkan anak pengidap hipospadia harus jongkok seperti anak perempuan (karena lubang keluar kencingnya berada di sebelahi bagi bawah penis). Selain itu jika hipospadia ini tidak dioperasi, maka setelah dewasa dia akan sulit untuk melakukan penetrasi / coitus. Selain penis tidak dapat tegak dan lurus (pada hipospadia penis bengkok akibat adanya chordae), lubang keluar sperma terletak dibagian bawah.
Operasi hipospadia satu tahap (ONE STAGE RETHROPLASTY) adalah tehnik operasi sederhana yang sering dapat digunakan, terutama untuk hipospadia tipe distal. Sambil dilihat di gambar, tipe distal ini yang meatusnya letak anterior atau yang middle.. Meskipun sering hasilnya kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. Sehingga banyak dokter lebih memilih untuk melakukan 2 tahap. Untuk tipe hipospadia proksimal yang disertai dengan kelainan yang jauh lebih berat, maka one stage urethroplasty nyaris tidak dapat dilakukan. Tipe hipospadia proksimal seringkali di ikuti dengan kelainan-kelainan yang berat seperti korda yang berat, globuler glans yang bengkok kearah ventral (bawah) dengan dorsal skin hood dan propenil bifid scrotum (saya agak kesulitan mencari istilah awam untuk istilah medis diatas). Intinya tipe hipospadia yang letak lubang air seninya lebih kearah proksimal (jauh dari tempat semestinya) biasanya diikuti dengan penis yang bengkok dan kelainan lain di skrotum atau sisa kulit yang sulit di”tarik” pada saat dilakukan operasi pembuatan uretra (saluran kencing). Kelainan yang seperti ini biasanya harus dilakukan 2 tahap. Operasi Hipospadia dua tahap, tahap pertama dilakukan untuk meluruskan penis supaya posisi meatus (lubang tempat keluar kencing) nantinya letaknya lebih proksimal (lebih mendekati letak yang normal), memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup bagian ventral / bawah penis. Tahap selanjutnya (tahap kedua) dilakukan uretroplasti (pembuatan saluran kencing / uretra) sesudah 6 bulan. Dokter akan menentukan tehnik operasi yang terbaik. Satu tahap maupun dua tahap dapat dilakukan sesuai dengan kelainan yang dialami oleh pasien.
Hipospadia sering disertai kelainan bawaan yang lain, misalnya pada skrotum dapat berupa undescensus testis, monorchidism, disgenesis testis dan hidrokele. Pada penis berupa propenil skrotum, mikrophallus dan torsi penile, sedang kelainan ginjal dan ureter berupa fused kidney, malrotasi renal, duplex dan refluk ureter.
Secara umum tekniknya terbagi menjadi operasi satu tahap dan multi tahap. Operasi perbaikan komplikasi fistula dilakukan 6 bulan paska operasi yang pertama.
Setelah menjalani operasi, perawatan paska operasi adalah tindakan yang amat sangat penting. Orang tua harus dengan seksama memperhatikan instruksi dari dokter bedah yang mengoperasi. Biasanya pada lubang kencing baru (post uretroplasty) masih dilindungi dengan kateter sampai luka betul-betul menyembuh dan dapat dialiri oleh air kencing. Di bagian supra pubik (bawah perut) dipasang juga kateter yang langsung menuju kandung kemih untuk mengalirkan air kencing.
Tahapan penyembuhan biasanya kateter diatas di non fungsikan terlebih dulu sampai seorang dokter yakin betul bahwa hasil uretroplasty nya dapat berfungsi dengan baik. Baru setelah itu kateter dilepas.
Komplikasi paska operasi yang terjadi :
1. Edema/pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi, juga terbentuknya hematom/ kumpulan darah dibawah kulit, yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi.
2. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang tersering dan ini digunakan sebagai parameter untuk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur operasi satu tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10% .
3. Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari anastomosis.
4. Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.
5. Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari rilis korde yang tidak sempurna, dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang.
6. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas.
Untuk menilai hasil operasi hipospadia yang baik, selain komplikasi fistula uretrokutaneus perlu diteliti kosmetik dan ‘stream’ (pancaran kencing) untuk melihat adanya stenosis, striktur dan divertikel.
Sebelum anak di operasi, dokter akan memeriksa dulu kondisi si anak. Untuk operasi anak-anak, selain prosedur-prosedur yang biasa dilakukan sebelum operasi, maka ronsen toraks (paru jantung) juga dikerjakan. Ditanyakan juga apakah ada riwayat terkena asma, batuk pilek, TBC. Kalau si anak dinilai masih kurang sehat tentu saja keadaan umum nya harus diperbaiki dahulu.
Maskaryo berkata,
Agustus 5, 2009 @ 9:12 pm
kejadian ini menimpa juga pada anak saya, alhamdullilah sekarang udah di operasi …tetapi setelah pascaoperasi sepertinya lama banget yah untuk buka kateter di lubang peninsnya….trusnya untuk buka perbanya agak repot soalnya dah terlalu lengket…ada ga yah cara tuk buka perbannya? dokter pake cairan antibiotik yg disiran diujung penisnya namun tetap aja lengket….mohon solusinya…
puskesmassimpangempat berkata,
Agustus 7, 2009 @ 2:08 am
Biasanya kami melepas perban yang lengket dengan bantuan cairan invus Ringer Laktat (RL Invus), caranya dengan menyiramkan invus tersebut di peran yang lengket, diamkan 1-2 menit, lalu perlahan-lahan kami angkat perbannya, memang kadang masih ada rasa nyeri, untuk itu kadang kami menambahkan juga dengan semprotan cairan Lidokain (pakai spuit 1/3cc) pada perban yang lengket tersebut dan mendiamkan 1 menit. Jika anda kesulitan dengan cairan Invus, bisa dicoba dengan air hangat 1 gelas dicampurkan dengan setengah sendok garam, aduk dan siramkan perlahan. cara melepasnya juga sama seperti cara diatas. Semoga info dari kami dapat berguna bagi Bapak, kami turut mendoakan agar anak Bapak cepat sembuh. Terima kasih atas perhatiannya.
Mas'ud hanafi berkata,
September 2, 2009 @ 2:24 pm
Ini terjadi pada diri saya,,saya udah 7 kalI berobat ke RSCM di Jakarta tapi Hasil nya loem sempurna,,en saluran nya masih ada keluar dr bawah,,meskipun penis nya sudah lurus en sebagian saluran nya ada keluar dr ujung.Umur saya masih 16 tahun,,en saya mulai operasi nya dr kelas 1 SD.Saran dr dokter saya sich saya harus menutupi lubang yang bocor setiap saya mau BAK sampe lubang nya kecil baru di lakukan OPERASI kembali.Menurut dokter jika kla saya sudah besar,,mungkinkah itu bisa membuat saya tidak mempunyai keturunan??
puskesmassimpangempat berkata,
September 3, 2009 @ 3:25 pm
Sayangnya Hipospadia yang anda derita tidak disebutkan lokasi kelainan lubang kemihnya. Seperti anda baca di kumpulan artikel kami tentang Hipospadia, ada beberapa tingkatan kelainan Hipospadia, semakin kepangkal penis lubang kemihnya, maka akan semakin sulit untuk mempunyai keturunan, sulit bukan berarti tidak bisa. Hal ini pertama-tama disebabkan lubang tempat keluar sperma tidak pada ujung penis, yang menyebabkan tidak sempurnanya penyemprotan cairan sperma saat penderita sedang berhubungan badan. satu-satunya cara koreksi Hipospadia adalah pembedahan, dan jika anda telah dilakukan pengkoreksian Hipospadia, dan ternyata masih terdapat kelainan keluar air kemih, kami sarankan untuk berkonsultasi lagi pada dokter bedah anda. Ada banyak faktor kegagalan dalam penyembuhan luka koreksi Hipospadia, antara lain infeksi, alergi, trauma / kecelakaan, dan lain-lain. Tetapi yang jelas, penderita Hipospadia masih bisa mempunyai keturunan meskipun dengan cara yang agak sulit. Semoga penjelasan kami dapat memberikan informasi yang tepat pada anda. Terima kasih atas perhatian Saudara Mas’ud, kami turut mendoakan agar anda dapat segera sembuh. Amin
Arai berkata,
September 30, 2009 @ 3:08 pm
Maaf sebelumnya..saya mau bertanya.
1. Adakah kemungkinan anak penderita hipospadia dapat normal kembali dan dalam jangka waktu berapa lama dia dapat hidup normal lagi.
2. saya pernah mambaca artikel pernah terjadi anak penderita hispopadia setelah di operasi malah mengalami kelumpuhan syaraf sehingga tidak dapat melakukan aktifitas apapun (lumpuh)..Apakah penyebabnya?
3. Dimana saya bisa mendapatkan info dokter yang berpengalaman dalam menangani operasi hispopadia untuk wilayah Jakarta dan Palembang serta berapa kira2 kisaran biaya di butuhkan untuk mengobatinya..???
Terima kasih banyak..
puskesmassimpangempat berkata,
Oktober 2, 2009 @ 11:07 pm
Selamat malam Arai, kami akan mencoba untuk menjawab pertanyaan Anda satu persatu.
1. Seorang anak penderita Hipospadia, dapat 100% kembali normal setelah diterapi (operasi URETHROPLASTY). Kembali kepada proses penyembuhannya setelah operasi (post Op), pasien haruslah benar-benar merawat lukanya sampai dokter yang menangani operasinya menyatakan benar-benar sembuh (lubang kemih abnormalnya tertutup sempurna dan lubang kemih buatan dapat dipakai untuk B.A.K.(Buang Air Kemih).
2. Sebenarnya, setiap tindakan operasi pasti ada efek sampingnya. Salah satunya adalah yang Anda sebutkan di atas. Hal itu dapat terjadi dari:
- faktor pasien (instrinsik: seperti misalnya alergi obat, penyakit saraf, diabetes, kelainan ginjal, hipertensi, dll yang diderita pasien dan mempengaruhi saat operasi)
- faktor luar pasien (ekstrinsik).
Kami sarankan untuk berkonsultasi kepada dokter Bedah yang menanganinya.
3. Untuk info dokter, kami mohon maaf tidak dapat membantu Anda, tapi saran kami agar Anda menghubungi dokter spesialis Bedah Urologi. Kisaran biaya yang kami ketahui sekitar 7 juta’an di Kalimantan Selatan Kabupaten Banjar. Terima kasih atas perhatian Anda, kami turut mendoakan agar anak atau kerabat Anda dapat cepat sembuh. Amin.
iin berkata,
Oktober 10, 2009 @ 10:54 am
anak saya berumur 6th 9 bl. dia mnderita hepospadia apakah stlh d operasi hrus istirahat total tdk bleh k sekolah dulu atau bermain? soalnya anak saya sngat aktif. bagaimana cara menanganinya? bs mnta rekomendasi RS atau dokter yg menangani kasus hepospadia ini ?
trmkasih.
puskesmassimpangempat berkata,
Oktober 17, 2009 @ 3:29 am
Memang setelah operasi koreksi untuk hipospadia,penderita diharapkan untuk istirahat total sampai dokter yang menanganinya menyatakan lukanya sembuh total. Takutnya jika bekas operasi tersebut terjadi scar atau bekas luka, yang membuat nantinya sang pasien sering terkena infeksi saluran kencing (I.S.K.), bahkan mungkin adanya gangguan saat setelah menkah dikemudian harinya. Untuk referensi dokter, kami sarankan untuk menghubungi dokter spesialis urologi terdekat Bu. Kami doakan agar anak Ibu dapat segera pulih kembali dan sehat selalu. Amin.