KEJU UNTUK BALITA? MENGAPA TIDAK! (kumpulan artikel)

Makanan kegemaran Micky Mouse ini, punya segudang zat gizi yang dibutuhkan balita, lho!

Keju adalah hasil olahan dari susu dengan bantuan fermentasi oleh bakteri ini. Selain lezat dan gurih,  Anda dapat memanfaatkannya sebagai salah satu sumber zat gizi andalan, yang dapat diolah menjadi 1001 jenis makanan lezat untuk balita.

Manfaatnya segudang.
Umumnya, keju dibuat dari susu, baik susu murni, susu rendah lemak, maupun susu tanpa lemak, yang telah disterilkan dengan cara Pasteurisasi. Jika dilihat dari bahan bakunya tersebut, tak heran kan jika keju juga kaya akan zat gizi  yang bermanfaat untuk tumbuh kembang balita?

Beberapa zat gizi yang terkandung dalam keju adalah:

  • Kalsium (Ca), membantu pertumbuhan dan pembentukan tulang serta gigi.
  • Protein, membantu proses pertumbuhan dan perkembangan sel-sel tubuh, serta menguatkan otot-otot tubuh balita.
  • Asam lemak linoleat dan linolenat, membantu perkembangan serabut-serabut sel saraf dan otak.
  • Kolesterol, membantu pembentukan membran sel dan hormon.
  • Fosfor (P), membantu pertumbuhan tulang dan gigi.
  • Vitamin A, membantu menjaga fungsi mata.
  • Magnesium, seng, dan selenium, berfungsi sebagai antioksidan yang membantu menangkal radikal bebas.
  • Riboflavin dan folat, membantu proses metabolisma aneka jenis zat gizi.

Dari bubur sampai kudapan. Jenis keju dikelompokkan berdasarkan asal susu (susu sapi, susu kambing, atau susu domba), proses pembuatan, tingkat kekerasan, negara penghasil, penampilan (ukuran, bentuk, dan warna), serta kandungan zat gizinya. Namun, tidak semua jenis keju ”aman” untuk diberikan kepada batita Anda. Jenis keju yang ”aman” untuk balita adalah keju Cheddar, keju Swiss, dan keju Cottage.

  • Keju cheddar
    Biasanya keju ini semi-keras. Tapi, ada juga yang tergolong keju keras. Jenis bakteri yang digunakan untuk memproses keju cheddar adalah Streptococcus sp. Bakteri ini berfungsi menghasilkan asam laktat dari susu.
  • Keju Swiss
    Ciri khas jenis keju Swiss adalah ”bolong-bolong” alias berlubang-lubang. Semakin baik mutu susu sapi yang digunakan sebagai bahan baku, semakin banyak lubang-lubang yang akan terbentuk. Pembuatan  keju Swiss menggunakan bakteri dari jenis Streptococcus thermophilus, Lactobacillus bulgaricus, Lactobacillus helveticus, dan ditambah bakteri Propionibacterium shermanii.
  • Keju cottage
    Ini merupakan jenis keju yang tergolong rendah lemak. Sebab, bahan bakunya berupa susu tanpa lemak (nonfat). Keju ini biasanya diberi tambahan rasa buah, antara stroberi, peach, raspberry, blueberry, dan nanas. Itu sebabnya, keju ini cenderung     mudah rusak (busuk), sehingga harus disimpan di dalam lemari pendingin

Anda bisa memperkenalkan keju dalam bentuk langsung, misalnya diserut halus atau dipotong kecil-kecil (finger food), atau sebagai campuran  dalam bubur, kue atau makanan  anak lainnya. Jadi, Anda dapat menyertakan keju, baik pada jadwal makan utama, maupun makanan selingan. Soal batasan pemberian, the American Dietetic Association merekomendasikan sebanyak 30 gram/hari.

Kaya manfaat. Keju merupakan produk olahan susu yang mengandung aneka zat gizi. Apa saja sih manfaat keju bagi pertumbuhan balita?

  • Membantu pertumbuhan dan pembentukan tulang serta gigi, serta mencegah risiko keropos tulang (osteoporosis) karena banyak mengandung kalsium (Ca) dan fosfor (P).
  • Proteinnya yang tinggi membantu proses pertumbuhan dan perkembangan, serta menguatkan otot-otot tubuh balita.
  • Membantu perkembangan serabut-serabut sel saraf dan otak karena mengandung asam lemak linoleat dan linolenat.
  • Membantu menjaga fungsi mata karena mengandung vitamin A.
  • Membantu menangkal radikal bebas karena mengandung magnesium, seng, dan selenium, yang berfungsi sebagai antioksidan.
  • Membantu proses metabolisme aneka zat gizi karena mengandung riboflavin dan folat.
Selain manfaat di atas, hasil riset beberapa ahli menyebutkan ada beberapa manfaat keju lainnya, seperti hasil riset Dr. Machteld Huber dari Louis Bolk Institute, Inggris, tahun 2007 yang membuktikan, ibu hamil yang mengonsumsi keju sepanjang kehamilannya, akan melahirkan anak yang berisiko lebih kecil menderita eksim.
Ada pula riset Prof. Carlo Leifert dari Newcastle University, Inggris, tahun 2007, yang membuktikan, anak-anak yang biasa mengonsumsi keju akan terhindar dari risiko menderita asma serta penyakit alergi lainnya.
Mitos Salah Keju. Pernah mendengar mitos-mitos mengenai keju? Coba cermati dulu dengan benar, apakah mitos itu benar atau tidak. Jangan sampai kebutuhan gizi balita tidak tercukupi dengan benar gara-gara mitos yang salah soal keju. Kata orang:
  • Kandungan lemaknya lebih dari 50%. Fakta: kandungan lemak di dalam jenis keju cheddar, misalnya, hanya 34%.
  • Tidak dapat diberikan kepada balita yang menderita intolerensia laktosa. Fakta: beberapa jenis keju, seperti keju cheddar, sesungguhnya tidak mengandung laktosa.
  • Menyebabkan balita mimpi buruk. Fakta: asam amino jenis triptofan, yang terkandung dalam keju, merupakan zat yang dapat mengurangi stres dan memicu munculnya rasa kantuk.
  • Penyebab kerusakan gigi. Fakta: makan sepotong keju setelah si kecil makan atau mengonsumsi makanan yang manis, justru dapat melindungi enamel gigi serta pembusukan gigi.

Protein adalah makanan untuk tumbuh, bertanggung jawab pada pertumbuhan serta memperbaiki dan mengganti jaringan. Protein adalah satu-satunya nutrisi yang dapat menduplikasi sendiri. Selama tahun pertama, kebutuhan protein bayi dapat dipenuhi oleh ASI atau susu formula yang kandungannya lengkap (di antaranya mengandung zat gizi dan prebiotik untuk daya tahan tubuh). Semakin besar, anak akan membutuhkan sumber-sumber protein lain, yang terdapat pada makanan laut terutama ikan salmon, produk olahan berbagan susu seperti keju dan yoghurt, polong-polongan seperti kacang kedelai, tahu dan buncis, daging sapid dan unggas, telur, entega kacang, dan padi-padian.

About these ads

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 297 pengikut lainnya.