KETIKA OBAT TBC TIDAK LAGI TAHAN

Ketika Obat tak Mampu Lagi Melawan TB, Gejala TB resisten (penyakit TB yang tahan terhadap program pengobatan TB saat ini) hampir sama dengan TB biasa, namun tidak membaik dengan pengobatan TB. Di Indonesia, tuberkulosis (TB) merupakan penyakit dengan jumlah penderita tertinggi. Setiap tahun, ditemukan setidaknya 500 ribu penderita TB baru. Yang memprihatinkan, setiap empat menit, satu orang meninggal akibat penyakit ini.

Tingkat kematian tersebut berada pada urutan nomor tiga tertinggi di dunia, setelah India dan Cina. Di antara kasus kematian itu, salah satu kemungkinkan adalah penderita mengalami apa yang disebut Multi Drug Resistent (MDR) tuberkulosis, atau resisten terhadap obat TB. Hingga kini memang belum diketahui secara pasti, berapa jumlah pasien TB resisten secara nasional. Namun, seperti dikatakan ahli penyakit paru dari RS Persahabatan, Dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), angka itu ada dan diperkirakan cukup tinggi kecenderungannya. ”Di RS Persahabatan sendiri, dari seluruh pasien TB, yang mengalami MDR (Multi Drug Resistent) mencapai 18 persen. Pun, ketika kita praktik, kasus MDR kerap ditemui,” katanya di sela seminar TB Resisten yang diselenggarakan Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), di Jakarta, Rabu (20/9). Kemunculan TB resisten sebenarnya sudah diketahui sejak beberapa tahun lalu. Kalangan medis pun telah memberikan perhatian tapi masih sebatas pada pengobatan orang per orang. ”Kalau bicara pengobatan massal, ya memang baru sekarang ini,” lanjutnya. Secara garis besar, penyebab resistensi tersebut ada empat hal. Yakni, dokter tidak memberikan obat dengan benar, pasien tidak patuh terhadap anjuran dokter, kualitas obat tidak baik. Terakhir, obat yang dibutuhkan belum tersedia merata. Mengapa kemudian menarik untuk mengedepankan penyakit tersebut, Tjandra mengatakan ada dua hal. Selama ini dalam pengobatan perorangan, ditemui dua masalah. Pertama, obat sekundernya mahal, dan kedua, tidak semua obat tersedia. Menurutnya, MDR juga menjadi penting karena lebih sulit diobati, angka kesembuhannya pun hanya 50 persen saja. Lebih jauh dijelaskan, gejala TB resisten hampir sama dengan TB biasa, cuma dia tidak membaik dengan pengobatan TB. Penangannya pun jadi khusus. Pasien MDR harus mendapatkan terapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obatan lini kedua. Oleh karena itu, ketika dokter menemukan ada pasien dengan gejala MDR, dia lantas menyarankan untuk segera dirujuk. ”Kalau coba-coba sendiri, risiko kegagalannya besar,” tukas mantan Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDRI) ini. Kegagalan pengobatan bukan tidak mungkin akan membawa pasien ke tahapan berikutnya, yakni Extensive Drug Resistant (XDR). Ini merupakan kondisi MDR ditambah resistensi terhadap tiga atau lebih obat lini kedua. XDR amatlah serius, dan akan lebih mendekatkan pasien ke bakteri yang belum ada obatnya sama sekali. Dalam pengobatan tuberkulosis, obat yang digunakan selama ini terbagi dalam dua kategori, yakni Obat Antituberkulosis (OAT) primer dan OAT sekunder. Oleh prof Armen Muchtar, ahli farmakologi FKUI, dikatakan bahwa OAT primer lebih tinggi kemanjuran serta keamanannya. Yang termasuk dalam OAT primer antara lain isoniazid, rifampin, ethambutol dan pyrazinamide. ”Dengan keempat obat tersebut, biasanya penderita TB dapat disembuhkan,” paparnya. Tetapi, karena satu dan lain hal, bila dengan OAT primer justru timbul resisten, maka yang resisten itu digantikan dengan dua hingga tiga macam OAT sekunder yang belum resisten. Pasien pun akan menerima setidaknya lima sampai enam macam obat sekaligus. Pada tahap ini, WHO menganjurkan strategi pengobatan DOTS (directly observed treatment, short course) untuk penggunaan OAT primer dan DOTS-plus untuk penggunaan OAT sekunder yang terdiri dari asam para-aminosalisilat, ethionamide, thioacetazone, fluorokinolon, penghambat beta-laktam, linezolid, dan lain-lain. Meski begitu, pengobatan dengan OAT sekunder akan memerlukan waktu lebih lama serta mengandung risiko efek samping lebih berat. Akibatnya, ancaman ketidakpatuhan mengikuti pengobatan menjadi tinggi. Bila fasilitas memungkinkan, dan berpotensi menularkan, sebaiknya penderita dirawat dan diisolasi di rumah sakit atau di sanatorium. Pendapat senada dikemukakan Kepala Subdit P2 TB Depkes, Dr Carmelia Basri MEpid. Menurutnya, MDR TB adalah kondisi di mana strain Mikrobacteria tuberculosis menjadi resisten terhadap paling sedikit isoniazid dan rifampisin. ”Resistensi ini bisa karena kegagalan mengenali adanya resistensi OAT atau penambahan jenis OAT secara semena-mena. Yang jelas, ini disebabkan karena manusia (man made),” tandasnya. Kini, mengingat risikonya yang cukup besar, penanganan serta pencegahan MDR pun diarahkan sebagai program nasional dengan mengedepankan strategi DOTS-plus tadi. Tetapi, sukses tidaknya program tersebut tergantung dari banyak hal, seperti komitmen politik berkesinambungan guna investasi sumberdaya manusia, diagnosis MDR-TB melalui kultur dan DST (Drug Susceptibility Testing) berkualitas. Selain itu, juga diperlukan strategi pengobatan yang tepat dengan memanfaatkan OAT lini kedua di bawah pengawasan manajemen OAT. ”Terjaminnya ketersediaan OAT lini kedua pun sangat penting diperhatikan,” kata Carmelia. Serta tak kalah penting, yakni penyediaan sistem pencatatan dan pelaporan untuk program DOTS plus.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s