KUMPULAN ARTIKEL SWINE FLU / FLU BABI DI INDONESIA

Sampai tanggal 13 Juli 2009, secara kumulatif kasus influenza A H1N1 positif di Indonesia berjumlah 86 orang terdiri dari 52 laki-laki dan 34 perempuan, yaitu 24 Juni (2 kasus), 29 Juni (6 kasus), 4 Juli (12 kasus), 7 Juli (8 kasus), 9 Juli (24 kasus), dan 12 Juli (12 kasus).

Seorang dari lima pasien yang diduga terjangkit (suspect) virus H1N1 di Kalimantan Timur, dinyatakan positif terserang virus penyebab flu babi itu. Masyarakat dihimbau tetap waspada dan senantiasa membiasakan pola hidup bersih dan sehat diantaranya mencuci tangan dengan sabun, dan melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar. Apabila sakit dengan gejala Influenza supaya mengenakan masker dan tidak beraktivitas dan pergi ke dokter apabila sakit flunya tidak membaik.<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Apa perbedaan influenza baru H1N1 dengan flu biasa dan flu burung?

Influenza baru H1N1 cukup berbahaya, mudah menular dan dapat menimbulkan kematian karena virus strain baru influenza H1N1 ini lebih berbahaya dibanding flu musiman seperti virus flu A H1N1, H2N1, H3N1 dan H3N2 yang biasa terdapat pada sesorang yang menderita flu musiman. Penyebaran flu baru H1N1 telah menyebar di 99 negara dengan 55.867 kasus yang dilaporkan dan 238 kematian, sehingga Badan Kesehatan Dunia (WHO) menaikkan status kewaspadaan pandemi influenza baru A H1N1 dari fase 5 ke fase 6 yang merupakan fase tertinggi. Mekipun angka kematiannya (Case Fatality Rate/CFR) hanya sekitar 0,5% namun flu baru H1N1 ini mudah menular. Sampai saat ini (24 Juni 2009) di Indonesia sudah dilaporkan 2 kasus positif flu H1N1 dan keduanya merupakan kasus impor yang artinya mereka tertular dari negara lain. Sedangkan flu burung H5N1 juga sangat berbahaya karena mematikan. Angka kematiannya lebih dari 80%. Namun saat ini di Indonesia penularan flu burung H5N1 masih sebatas dari unggas ke manusia (fase 3). Sampai saat ini belum ada penularan flu burung H5N1 antar manusia.

Influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita.

Apa gejala seseorang menderita flu baru H1N1?

Gejala flu baru H1N1 yang dapat sama dengan seperti flu biasa (influenza like-illnes),

seperti demam (> 38oC), batuk, pilek, letih, lesu, sakit tenggorokan mungkin disertai mual,

muntah dan diare, bila semakin berat akan mengakibatkan sesak napas atau napas sesak

yang menyebabkan terjadinya pneumonia yang mengakibatkan kematian.

Apakah sudah ada obat atau vaksin yang ampuh untuk flu baru H1N1?

Sampai saat ini belum ada vaksin yang ampuh untuk mencegahanya. Obat antiviral yang masih efektif untuk pengobatan adalah Oseltamifir (Tamiflu), dengan catatan segera mendapatkan pengobatan setelah merasa sakit flu.

Mempertimbangkan dampak mungkin dari infeksi virus influenza A(H1N1) yang muncul, program dan layanan HIV/AIDS harus sadar mengenai risiko terkait dan mempunyai rencana untuk pencegahan dan pengobatan.

Belum ada informasi terdokumentasi mengenai interaksi klinis antara HIV dan virus influenza A(H1N1). Penyebaran, masa inkubasi dan manifestasi klinis virus influenza itu umumnya serupa dengan virus influenza musiman. Belum ada informasi yang cukup mengenai komplikasi dan spektrum penyakit tetapi komplikasi kemungkinan serupa dengan influenza musiman. Kelompok usia dan kelompok lain dengan risiko lebih tinggi untuk komplikasi dari influenza A(H1N1) ini sedang ditelitikan.

Kelompok usia dan kelompok lain dengan risiko lebih tinggi untuk komplikasi dari influenza musiman termasuk orang dengan penyakit kekurangan kekebalan, termasuk infeksi HIV. Risiko mortalitas dari influenza musiman lebih tinggi di antara orang terinfeksi HIV dibandingkan populasi umum. Penelitian menunjukkan risiko lebih tinggi untuk rawat inap terkait jantung dan paru pada orang terinfeksi HIV selama musim influenza dibandingkan waktu yang lain, dan risiko lebih tinggi terhadap kematian terkait influenza pada orang terinfeksi HIV. Penelitian lain menunjukkan bahwa gejala influenza mungkin dialami untuk jangka waktu yang lebih panjang dan risiko komplikasi terkait influenza lebih tinggi untuk orang terinfeksi HIV yang tertentu. Oleh karena itu, orang terinfeksi HIV harus dianggap sebagai populasi berisiko tinggi dan prioritas untuk strategi pencegahan dan terapeutik terhadap influenza termasuk infeksi virus influenza A(H1N1) yang muncul.

Virus influenza A(H1N1) yang didapat dari Meksiko dan AS adalah rentan terhadap oseltamivir dan zanamivir tetapi tidak terhadap amantadine dan ramantadine. Pasien berisiko lebih tinggi terhadap komplikasi influenza termasuk mereka dengan infeksi HIV harus di antara mereka yang diberi prioritas untuk pengobatan antiviral termasuk dengan oseltamivir atau zanamivir, yang memendekkan lamanya dan beratnya penyakit pada influenza musiman. Untuk influenza musiman, manfaat maksimal diambil apabila unsur antiviral dimulai dalam 48 jam setelah gejala mulai, tetapi manfaat termasuk pengurangan mortalitas dan lamanya rawat inap mungkin tetap dihasilkan dari terapi yang ditunda. Jangka waktu pengobatan yang baku untuk influenza musiman adalah lima hari, dengan takaran obat disesuaikan untuk berat badan (lihat Tabel 1). Obat antiradang non-steroid (NSAID) dan terapi simtomatis lain dapat mengurangi ketidaknyamanan, tetapi aspirin harus dihindari pada anak dan perempuan hamil karena risiko sindrom Reye. Interaksi obat antara obat antiretroviral (ARV) dengan oseltamivir atau zanamivir belum pernah dilaporkan sampai saat ini.

Saat ini belum ada vaksin khusus terhadap infeksi influenza A(H1N1) tetapi usulan umum untuk imunisasi influenza musiman pada orang terinfeksi HIV harus diikuti. Usulan untuk vaksinasi influenza musiman pada orang terinfeksi HIV adalah untuk memberi vaksinasi tahunan dengan vaksin trivalent diinaktivikasi, tidak tergantung pada jumlah CD4, walau orang dengan penyakit HIV berat mungkin tidak membentuk tanggapan antibodi yang cukup terhadap vaksin influenza. Penggunaan vaksin hidup yang dilemahkan harus dihindari. Kontraindikasi terhadap penggunaan vaksin influenza yang diinaktivikasi pada orang terinfeksi HIV adalah sama dengan untuk mereka tanpa infeksi HIV.

Bila unsur antiviral tersedia dengan jumlah yang cukup, orang terinfeksi HIV harus dipertimbangkan untuk profilaksis pascapajanan dengan oseltamivir atau zanamivir, dengan profilaksis diteruskan selama sepuluh hari setelah pajanan yang terakhir diketahui pada kasus yang sakit atau dikonfirmasi. Profilaksis pascapajanan diusulkan untuk orang terinfeksi HIV yang berhubungan dalam rumah tangga dengan orang dengan influenza A(H1N1).

Walau tidak ada cukup data untuk meramalkan dampak pandemi influenza manusia yang mungkin pada populasi terinfeksi HIV, interaksi antara HIV/AIDS dan influenza A(H1N1) dapat bermakna. Rencana persiapan negara untuk influenza harus membahas kebutuhan orang terinfeksi HIV, dan rencana HIV/AIDS negara, terutama di negara dengan prevalensi HIV yang tinggi, harus mempertimbangkan tindakan kesehatan masyarakat yang dibutuhkan untuk influenza pandemi.

Tabel 1: Takaran obat antiviral influenza

Unsur, kelompok Pengobatan Kemoprofilaksis
Oseltamivir
Orang dewasa Kapsul 75mg dua kali sehari untuk lima hari Kapsul 75mg sekali sehari
Anak (usia 12 bulan atau lebih), berat badan: 15kg atau kurang 60mg per hari dibagi dua dosis 30mg sekali sehari
15-23kg 90mg per hari dibagi dua dosis 30mg sekali sehari
24-40kg 120mg per hari dibagi dua dosis 60mg sekali sehari
> 40kg 150mg per hari dibagi dua dosis 75mg sekali sehari
Zanamivir
Orang dewasa Dua inhalasi 5mg (10mg keseluruhan) dua kali sehari Dua inhalasi 5mg (10mg keseluruhan) sekali sehari
Anak Dua inhalasi 5mg (10mg keseluruhan) dua kali sehari Dua inhalasi 5mg (10mg keseluruhan) sekali sehari (usia 5 tahun atau lebih)

Disesuaikan dari 2009 IDSA Guidelines for Seasonal Influenza in Adults and Adolescents (Clin Inf Dis 2009,48:1003-32).

Catatan:
data keamanan mengenai penggunaan oseltamivir (atau zanamivir) kurang tersedia pada anak berusia di bawah satu tahun, dan oseltamivir belum disetujui untuk dipakai pada anak berusia di bawah satu tahun. Ciri infeksi manusia dengan virus influenza A(H1N1) masih sedang ditelitikan, dan tidak diketahui apakah bayi berisiko lebih tinggi terhadap komplikasi terkait infeksi influenza A(H1N1) dibandingkan anak yang lebih tua dan orang dewasa. Namun penggunaan obat ini off-label pada anak berusia di bahwa satu tahun baru-baru dipertimbangkan untuk keadaan pandemi.

. Apakah sudah ada obat atau vaksin yang ampuh untuk flu baru H1N1?

Sampai saat ini belum ada vaksin yang ampuh untuk mencegahanya. Obat antiviral yang

masih efektif untuk pengobatan adalah Oseltamifir (Tamiflu), dengan catatan segera

mendapatkan pengobatan setelah merasa sakit flu.

3 Komentar

  1. makasih banyak infonya

    • ada nggak slidenya untuk bs dijadikan bahan penyuluhan. thanks

      • maaf kami sudah mencari slidenya tetapi belummenemukan di internet kami akan mencoba untuk membuatnya, juga untuk penyuluhan kami. Atas perhatiannya kami ucapkan banyak terima kasih.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s